January 29, 2012

Remember Me

Remember me – 2010
A drama centered on two lovers whose newfound relationship is threatened as they try to cope with their respective family tragedies.”


Tyler is a rebellious young man in New York City who has a strained relationship with his father ever since tragedy separated their family. 
Tyler didn't think anyone could possibly understand what he was going through until the day he met Ally through an unusual twist of fate. 
Love was the last thing on his mind, but as her spirit unexpectedly heals and inspires him, he begins to fall for her. Through their love, he begins to find happiness and meaning in his life. Soon, hidden secrets are revealed, tragedy lingers in the air, as the circumstances that brought them together threaten to tear them apart. 

Remember Me" is an unforgettable story about the power of love, the strength of family, and the importance of living passionately and treasuring every day of one's life. 



Genre: Drama/Romance
Directed by: Allen Coulter
Starring: Robert Pattinson, Emilie de Ravin, Pierce Brosnan, Chris Cooper, Lena Olin
Release Date: March 12, 2010


Remember me quote:
Don’t postpone what you want… Don’t leave anything misunderstood…
Make sure the people you care about know… Make sure they know how you really feel…


(Source: Teaser)

January 28, 2012

mommy

Dear Mommy,

Mom, thank you.
I don’t know but I can’t find another word except that.

Mom, thank you.

Terima kasih sudah membawa saya dengan selamat dan tidak kekurangan satupun ke dunia ini. Terima kasih sudah membesarkan saya sampai saya berumur hampir seperempat abad. Terima kasih sudah menyediakan segala sesuatunya dan memberikan yang terbaik, selalu, untuk saya.

Saya bukan anakmu yang sangat baik dan bisa membanggakan.
Tapi saya selalu berusaha memberikan yang terbaik dan bisa membanggakan Mama.
Tapi saya juga tahu, saya belum berhasil.

Apa yang pernah saya rasakan dulu, apa yang saya tahu dulu, tentang saya dan keluarga kita, tentang Mama yang selalu berjuang keras, bekerja sampai malam, dan tetap mendidik anak – anakmu dengan caramu sendiri. Terima kasih.

Apa yang kita punya sekarang, semua apa yang kita rasakan hari ini, semua juga berkat Mama, yang dengan gigih tanpa kenal lelah bekerja pagi – malam, untuk kami, anak -  anakmu.

Mom, terima kasih.
Kejadian hampir sepuluh bulan lalu ada banyak mengajarkan saya dan jauh lebih mendekatkan kita.
Terima kasih karena Mama ngga pernah menghakimi, tidak menanyakan kenapa, tapi selalu ada disana, memeluk saya dengan perhatianmu.

Terima kasih,Ma.
Jaga kesehatan Mama, jangan banyak – banyak makan instant food dan soft drink itu, ngga baik untuk gula darah dan tekanan darah Mama.
Jangan terlalu lelah bekerja, anak – anakmu sudah besar dan menjalani hidupnya masing – masing sekarang.
Jangan lupa bersenang – senang untuk diri sendiri.

Mom, have I ever told you that I love you?
Mom, I deeply in love with you.
Thank you.


Your little daughter.

January 27, 2012

the unsent letter


This is about all the things that we never shared.
This is about all the tears, pains, and the unspoken words.
This is about our different perspectives, like what you’ve said to me that everyone has their own perspectives about all the things that happen, right?
This is about what I want to believe and I claim as the truth.
This is my perspectives about what happen months ago.
And this is a letter, one of the letters, which I never send to you.

Ini tentang kata – kata terakhir kamu yang saya baca tadi pagi. Saya tidak tahu kamu tahu darimana, dan saya tidak akan mencari tahu.
Saya lelah mencari tahu, saya lelah terus – terusan menyakiti hati saya karena keingintahuan saya. Dan saya sudah berjanji dengan diri sendiri untuk berhenti bertanya kenapa dengan siapapun dan apapun.
Saya berharap ini semua salah, saya salah mengira, tapi tidak ada kebetulan di dunia ini. Segala sesuatu terjadi karena ada alasan, dan saya tidak percaya jika kebetulan bisa terjadi di waktu yang sama, berulang terus – menerus.

Ini tentang wanita yang sama yang tinggal berjarak 3,199 miles jauhnya dari saya.
Kamu mungkin tahu siapa yang saya maksud. Mungkin kamu membaca ini saat ini atau besok atau nanti, atau mungkin tidak akan pernah.

Teruntuk wanita yang berbeda timezone dengan saya itu. Terima kasih.

Terima kasih sudah menyelamatkan saya dan hidup saya dan terlebih lagi hati saya dari semua hal yang mungkin akan terjadi jika saya terus melanjutkan hubungan kemarin dengan alasan rasa sayang saya yang sebesar gunung itu.

Terima kasih karena kamu kembali menerima dia dalam kehidupan kamu. Terima kasih karena kamu kembali di saat saya belum lama menjalaninya dengan dia.
Terima kasih karena saat itu kamu mencari saya di antara teman – teman saya dan berusaha baik untuk bilang yang sejujurnya dengan saya, yang walaupun pada akhirnya saya tahu maksud kamu sebenarnya apa.

Terima kasih karena kamu mengajarkan saya sekali lagi kalau saya tidak bisa menggunakan semua standar yang saya punya untuk semua orang.
Terima kasih karena kamu memberitahu saya secara tidak langsung tentang bagaimana saya (seharusnya) melihat teman – teman saya selama ini.
Terima kasih karena kamu mengajarkan saya tentang kehilangan, kepercayaan, dan apa yang berharga untuk dipertahankan dan tidak (se)harus(nya) dipertahankan.

Dibalik semua rasa sakit hati saya dan kebencian saya dengan kamu ataupun dia, mungkin itu semua sudah berkurang dan semoga cepat menghilang.
Saya sudah memaafkan diri saya, semoga kamu juga cepat memaafkan diri kamu sendiri.
Entah apa alasan saya bilang itu, kenapa kamu harus memaafkan diri kamu, tapi kita semua melakukan banyak hal bodoh (dan terutama yang berhubungan dengan hati), tapi itu membuat kita jadi semakin baik. Seharusnya. Dan untuk menjadi lebih baik, kita harus berhenti menyalahkan diri sendiri dan memaafkannya karena melakukan hal bodoh (lagi), iya kan?

Dan juga maafkan saya jika saya pernah membuat kamu merasa tidak aman apalagi jika sampai kamu merasa saya menyakiti kamu, lewat siapapun itu.
Saya tidak pernah melakukannya, untuk yang pertama dan terakhir kali saya tegaskan, saya tidak pernah menyakiti kamu, maksud sedikit saja untuk menyakiti pun tidak pernah ada.
Bukan saya yang mencari – cari kamu dan berusaha meluruskan segala sesuatunya, iya kan?
Walaupun saya pernah marah dengan lelaki itu karena perkataan dan sikapnya dengan saya, tapi saya masih bilang terima kasih dengan kamu di surat itu, yang kamu terima lewat teman saya.
Ya sudah, jangan dibahas lagi tentang itu. Tidak akan saya bahas lagi.

Tapi benar jika saya tidak pernah bermaksud untuk menyakiti siapapun, saya tahu rasanya disakiti sehingga saya tidak akan pernah berbuat hal yang sama dengan siapapun, tapi apa yang saya harapkan ini mungkin tidak sejalan dengan pikiran kamu.
Sampai di posisi ini pun sudah jelas kalau kita punya standar, pemikiran, dan pendapat yang berbeda, bukan?

Ego saya masih besar, meminta maaf terkadang berkesan saya kalah.
Tapi percayai saja apa yang kamu ingin percaya, pertahankan saja kebenaran yang kamu anggap benar. Dan begitu juga saya.
Ada ego yang terkoyak karena saya merasa tidak dipercayai, kebenaran yang benar menurut saya mungkin hanyalah rentetan kebohongan di pikiran kamu.
Tapi seperti yang pernah kamu bilang sebelumnya, semua orang punya pendapatnya masing – masing, dan kamu berhak untuk percaya pendapat siapapun.

Terakhir sekali lagi saya ucapkan terima kasih.
Terima kasih kamu menyelamatkan hidup dan hati saya dari rasa sakit berkepanjangan jika saya meneruskan semua drama itu.
Mudah – mudahan suatu hari kamu bisa mendapatkan hal yang sama, tapi jika pun tidak dan kamu tetap ada di posisi sekarang, semoga tidak pernah ada penyesalan dan air mata berkepanjangan.

Terima kasih, kamu.
Dan berhentilah mencari tahu tentang saya ataupun mendengarkan apapun tentang saya.
Kita cari bahagia versi kita masing – masing saja, ya?



Tertanda,
Wanita yang kamu tuju dalam kata – katamu tadi pagi.

January 21, 2012

my chérie

Dear Sherry,

Let assume this email as a Lunar New Year card with some lanterns, dragons, oranges in a red and gold colour :p

Well, how to open this letter, should I say: hi, how are you or I can just hit you now? *smirk*
This is the eighth day and I don’t have any idea to write a letter, especially the receiver, but actually I really want to say a lot of things to you.

Sher,
Maybe 2011 isn’t the best and luckiest year for you, a lot of emotional turmoil and lost that you have to face. But it must be there are some of things to be grateful, some happiest things and moments.
And I can’t even be there, beside you, when you have to deal with them. I’m sorry for that.

Sher,
Thank you for always be there whenever I feel mad or bored with the things here. Thank you for always listen my ‘craps’ about the jobs, friends, some guys in my life (ok, we just have two persons, right? :p)

For almost 4 years we know, but we never met before, how can that happen to us?
Can you imagine it? Even a long-distance-relationship will meet occasionally.
But whatever happens with us, I wish what we have now will last until the last.

And sorry for all my words that ever hurt you, sorry if sometimes I’m being a childish and selfish, sorry for all the mistakes that I made that I remember or not.

Thank you for all the attention that you give to me when I through my hard time some couple of months before. Thank you for the minutes that you give to me to listen my stories again and again. Thank you for all the things that you do to calm me down.
Thank you for all the time we shared. Thank you for the chance that we give to us. Thank you for being my friend.

There’s still a lot of thanks and sorry for the next days, but I hope it will enough for now.

Happy lunar New Year, my sher-sher.



With lot of love and hugs,
Mey
*kiss kiss*


January 20, 2012

cepat pulang, sayang

Thank you for always being here, beside me, when I’m up and especially when I’m down.

Kapan pertama kali kita kenal?
Sudah lima belas tahun lebih bukan?
Apa yang kita bangun lima belas tahun lalu, apa yang kita rencanakan dan rekatkan sejak lima belas tahun lalu, apa yang tersisa kini?

Pertemanan lima belas tahun lalu, yang tersisa hanya kita berdua. Sedih tidak?

Saya yang banyak melakukan kesalahan sama kamu, terima kasih selalu menerima saya kembali.
Saya yang lebih sering sensitive dan meminta banyak bantuan dari kamu.
Saya yang lebih sering menerima kebaikan dari kamu.
Ini kelihatannya tidak seimbang, bukan?

Terima kasih untuk semuanya.

I don’t even have any words except thank you.

Kamu yang selalu menemani saya di tiap pagi dan malam ketika saya terpuruk di titik terendah.
Kamu yang pertama membantu saya bicara tanpa sepengetahuan saya.

Dan apa yang sudah saya lakukan untuk kamu?

Saya dan kamu, sama – sama pernah dikecewakan oleh orang yang sama, dengan alasan yang berujung ke benang merah yang sama.
Kepercayaan yang sudah pernah rusak itu memberikan kekecewaan yang mungkin bisa jadi sama besarnya.

Tapi apa yang pernah kita lewati sama – sama mungkin bisa membuat kita menghargai apa yang tersisa dari kita sekarang.

Maaf, saya tidak bisa memberi banyak.
Maaf, saya tidak bisa jadi teman terbaik.

Tapi apa yang saya pernah berikan, harapan saya untuk kita di masa datang, tetap seperti ini, bisa bersama ‘till do us apart

Dan satu hal lagi,
Kenapa selama lima belas tahun bersama, kita ngga pernah foto berdua?
Pulanglah cepat sayangku, kita foto berdua dan habiskan malam bersama lagi seperti biasanya ya?
Pulanglah cepat, jangan lama – lama di negeri sebrang itu, saya kangen kamu…


Tertanda,
Temanmu sejak lima belas tahun lalu