January 12, 2012

21 April 2011

21 April 2011.
Hari itu adalah hari terakhir kita bertemu dan menghabiskan malam bersama.
Hari itu adalah hari terakhir kamu benar – benar bicara dan memeluk saya.
Hari itu adalah hari terakhir saya benar – benar merasa kamu sayang dengan saya.

21 April 2011. Dan itu sudah lewat hampir sembilan bulan yang lalu.

Dan hari ini, setelah puluhan hari terlewat dengan saya hanya bisa memandang kamu dari lukisan digital kamu, saya melihatmu lagi. Hanya berjarak beberapa meter di depan saya.
Saya baik – baik saja. Setidaknya itu yang ada di otak saya, sebelum kemudian saya mengakhiri hari ini dengan menangis pedih dan rasa sakit dan hancur yang (hampir) sama, dengan alasan yang saya tidak terlalu tahu.

Kamu.
Kamu yang datang dan mengobrak – abrik tembok pertahanan saya dengan semua usaha kamu dan limpahan perhatian dan rasa sayang kamu, setidaknya itulah yang saya pikirkan saat itu, dan kamu menghancurkan tembok itu bersamaan dengan kamu menghancurkan saya pelan – pelan.

Kamu.
Kamu yang saya tidak tahu apa yang kamu pikirkan detik itu. Ketika kamu berusaha membuktikan perasaan sayang kamu dan kemudian juga memutar semua perkataan kamu dan yang terlebih kejam lagi, membuang dan seperti tidak mengenal saya.

Apa saya pantas menyebut itu sebagai salah satu sikap kejam kamu dengan saya?
Apa semua ini sudah sering kamu lakukan sebelumnya?
Mencoba menarik seseorang masuk ke kehidupan kamu, berusaha terlihat mencintainya, kemudian menghadirkan drama kamu dan wanita yang selalu membuat kamu bolak – balik berstatus ‘in a relationship’ dan ‘single’ ratusan kali itu?

Kamu berhasil mengambil hati saya dan menghancurkannya dengan cara kamu yang hebat, mengambil hati keluarga saya, dan membuat saya sampai detik ini belum bisa melihat orang lain karena kepingan hati saya yang belum juga berhenti menyakitinya sendiri.

Dan kamu masih tetap berhasil membuat saya gemetaran dan panas dingin hanya karena melihat kamu, lagi, setelah lewat sembilan bulan yang lalu.

Apa semua air mata dan pedih ini menunjukkan kalau saya masih sayang kamu, dengan atau tidak dengan ukuran yang sama?
Apa menuliskan kata – kata ini sambil menangis tidak karuan sambil mendengar lagu kesukaan kamu bisa membuat saya punya hak untuk bilang kalau saya masih sangat mencintai kamu, merindukan kamu, berharap kamu mengirimkan penjelasan kamu dan mendengar permohonan maaf itu?
Apa jika kita bertatap muka sekali lagi, kamu akan berhenti dan mengatakan kamu mengenal saya, atau kamu akan berbalik berjalan menjauh dan berpura – pura kita tidak pernah mengenal sama sekali?

Atau mungkin baiknya tadi saya benar – benar menabrak kamu saja, mungkin itu lebih bisa membuat saya menangis senang…


0 comments: