Thank you for always being here, beside me, when I’m up and especially when I’m down.
Kapan pertama kali kita kenal?
Sudah lima belas tahun lebih bukan?
Apa yang kita bangun lima belas tahun lalu, apa yang kita rencanakan dan rekatkan sejak lima belas tahun lalu, apa yang tersisa kini?
Pertemanan lima belas tahun lalu, yang tersisa hanya kita berdua. Sedih tidak?
Saya yang banyak melakukan kesalahan sama kamu, terima kasih selalu menerima saya kembali.
Saya yang lebih sering sensitive dan meminta banyak bantuan dari kamu.
Saya yang lebih sering menerima kebaikan dari kamu.
Ini kelihatannya tidak seimbang, bukan?
Terima kasih untuk semuanya.
I don’t even have any words except thank you.
Kamu yang selalu menemani saya di tiap pagi dan malam ketika saya terpuruk di titik terendah.
Kamu yang pertama membantu saya bicara tanpa sepengetahuan saya.
Dan apa yang sudah saya lakukan untuk kamu?
Saya dan kamu, sama – sama pernah dikecewakan oleh orang yang sama, dengan alasan yang berujung ke benang merah yang sama.
Kepercayaan yang sudah pernah rusak itu memberikan kekecewaan yang mungkin bisa jadi sama besarnya.
Tapi apa yang pernah kita lewati sama – sama mungkin bisa membuat kita menghargai apa yang tersisa dari kita sekarang.
Maaf, saya tidak bisa memberi banyak.
Maaf, saya tidak bisa jadi teman terbaik.
Tapi apa yang saya pernah berikan, harapan saya untuk kita di masa datang, tetap seperti ini, bisa bersama ‘till do us apart
Dan satu hal lagi,
Kenapa selama lima belas tahun bersama, kita ngga pernah foto berdua?
Pulanglah cepat sayangku, kita foto berdua dan habiskan malam bersama lagi seperti biasanya ya?
Pulanglah cepat, jangan lama – lama di negeri sebrang itu, saya kangen kamu…
Tertanda,
Temanmu sejak lima belas tahun lalu

1 comments:
Iya, Sayang. Cepatlah pulang. Nona Mey menunggu. #keplak!
Post a Comment