This is about all the things that we never shared.
This is about all the tears, pains, and the unspoken words.
This is about our different perspectives, like what you’ve said to me that everyone has their own perspectives about all the things that happen, right?
This is about what I want to believe and I claim as the truth.
This is my perspectives about what happen months ago.
And this is a letter, one of the letters, which I never send to you.
Ini tentang kata – kata terakhir kamu yang saya baca tadi pagi. Saya tidak tahu kamu tahu darimana, dan saya tidak akan mencari tahu.
Saya lelah mencari tahu, saya lelah terus – terusan menyakiti hati saya karena keingintahuan saya. Dan saya sudah berjanji dengan diri sendiri untuk berhenti bertanya kenapa dengan siapapun dan apapun.
Saya berharap ini semua salah, saya salah mengira, tapi tidak ada kebetulan di dunia ini. Segala sesuatu terjadi karena ada alasan, dan saya tidak percaya jika kebetulan bisa terjadi di waktu yang sama, berulang terus – menerus.
Ini tentang wanita yang sama yang tinggal berjarak 3,199 miles jauhnya dari saya.
Kamu mungkin tahu siapa yang saya maksud. Mungkin kamu membaca ini saat ini atau besok atau nanti, atau mungkin tidak akan pernah.
Teruntuk wanita yang berbeda timezone dengan saya itu. Terima kasih.
Terima kasih sudah menyelamatkan saya dan hidup saya dan terlebih lagi hati saya dari semua hal yang mungkin akan terjadi jika saya terus melanjutkan hubungan kemarin dengan alasan rasa sayang saya yang sebesar gunung itu.
Terima kasih karena kamu kembali menerima dia dalam kehidupan kamu. Terima kasih karena kamu kembali di saat saya belum lama menjalaninya dengan dia.
Terima kasih karena saat itu kamu mencari saya di antara teman – teman saya dan berusaha baik untuk bilang yang sejujurnya dengan saya, yang walaupun pada akhirnya saya tahu maksud kamu sebenarnya apa.
Terima kasih karena kamu mengajarkan saya sekali lagi kalau saya tidak bisa menggunakan semua standar yang saya punya untuk semua orang.
Terima kasih karena kamu memberitahu saya secara tidak langsung tentang bagaimana saya (seharusnya) melihat teman – teman saya selama ini.
Terima kasih karena kamu mengajarkan saya tentang kehilangan, kepercayaan, dan apa yang berharga untuk dipertahankan dan tidak (se)harus(nya) dipertahankan.
Dibalik semua rasa sakit hati saya dan kebencian saya dengan kamu ataupun dia, mungkin itu semua sudah berkurang dan semoga cepat menghilang.
Saya sudah memaafkan diri saya, semoga kamu juga cepat memaafkan diri kamu sendiri.
Entah apa alasan saya bilang itu, kenapa kamu harus memaafkan diri kamu, tapi kita semua melakukan banyak hal bodoh (dan terutama yang berhubungan dengan hati), tapi itu membuat kita jadi semakin baik. Seharusnya. Dan untuk menjadi lebih baik, kita harus berhenti menyalahkan diri sendiri dan memaafkannya karena melakukan hal bodoh (lagi), iya kan?
Dan juga maafkan saya jika saya pernah membuat kamu merasa tidak aman apalagi jika sampai kamu merasa saya menyakiti kamu, lewat siapapun itu.
Saya tidak pernah melakukannya, untuk yang pertama dan terakhir kali saya tegaskan, saya tidak pernah menyakiti kamu, maksud sedikit saja untuk menyakiti pun tidak pernah ada.
Bukan saya yang mencari – cari kamu dan berusaha meluruskan segala sesuatunya, iya kan?
Walaupun saya pernah marah dengan lelaki itu karena perkataan dan sikapnya dengan saya, tapi saya masih bilang terima kasih dengan kamu di surat itu, yang kamu terima lewat teman saya.
Ya sudah, jangan dibahas lagi tentang itu. Tidak akan saya bahas lagi.
Tapi benar jika saya tidak pernah bermaksud untuk menyakiti siapapun, saya tahu rasanya disakiti sehingga saya tidak akan pernah berbuat hal yang sama dengan siapapun, tapi apa yang saya harapkan ini mungkin tidak sejalan dengan pikiran kamu.
Sampai di posisi ini pun sudah jelas kalau kita punya standar, pemikiran, dan pendapat yang berbeda, bukan?
Ego saya masih besar, meminta maaf terkadang berkesan saya kalah.
Tapi percayai saja apa yang kamu ingin percaya, pertahankan saja kebenaran yang kamu anggap benar. Dan begitu juga saya.
Ada ego yang terkoyak karena saya merasa tidak dipercayai, kebenaran yang benar menurut saya mungkin hanyalah rentetan kebohongan di pikiran kamu.
Tapi seperti yang pernah kamu bilang sebelumnya, semua orang punya pendapatnya masing – masing, dan kamu berhak untuk percaya pendapat siapapun.
Terakhir sekali lagi saya ucapkan terima kasih.
Terima kasih kamu menyelamatkan hidup dan hati saya dari rasa sakit berkepanjangan jika saya meneruskan semua drama itu.
Mudah – mudahan suatu hari kamu bisa mendapatkan hal yang sama, tapi jika pun tidak dan kamu tetap ada di posisi sekarang, semoga tidak pernah ada penyesalan dan air mata berkepanjangan.
Terima kasih, kamu.
Dan berhentilah mencari tahu tentang saya ataupun mendengarkan apapun tentang saya.
Kita cari bahagia versi kita masing – masing saja, ya?
Tertanda,
Wanita yang kamu tuju dalam kata – katamu tadi pagi.
1 comments:
Insecurity (really) is girl's middle name. True gentlemen wud never let his lady feels that :)
I'm happy that you passed your test, and become a better Mey that once i knew. Keep learning, keep smiling, for the prize goes to the one who learn from his/her mistakes.
Love this letter! :P
Post a Comment