February 16, 2012

I call it as a Life!


Banyak orang yang menilai seseorang dari penampilannya.
Banyak orang menilai seseorang dari perkataannya.
Banyak orang menilai seseorang dari sikapnya.

Banyak orang menilai seseorang dari jumlah kekayaan harta – bendanya.
Banyak orang menilai seseorang dari koleksi jam, tas, pakaian, dan benda mahal lainnya yang tentunya bermerk.
Banyak orang menilai seseorang dari jejeran panjang hasil pendidikan dibelakang namanya.
Banyak orang menilai seseorang dari apa yang mereka pakai, apa yang mereka punya, kendaraan apa yang mereka naiki, seberapa tinggi jabatannya, seberapa besar penghasilannya setiap akhir bulan, dan seberapa jauh mereka pernah berkelana.

Beberapa akan menilai rendah seorang yang lain karena dia tidak mempunyai hal yang sebanding dengan dirinya.
Beberapa akan melirik rendah seorang yang lain karena dia tidak sehebat dirinya.
Beberapa akan memandang rendah seorang yang lain karena dia tidak secantik dan/atau sekaya dirinya.

Siapakah yang membuat batasan itu?
Jawabannya adalah manusia itu sendiri.

Saya dilahirkan bukan dari keluarga besar dan kaya raya.
Perlu ada kerja keras orangtua saya sampai titik keringat terakhir, dan saya bersyukur saya lahir di keluarga ini.
Kami bukan keluarga kaya raya yang bisa memiliki semuanya, kami harus berusaha untuk bisa mempunyai apa yang kami punya sekarang.
Dan beruntungnya kami, usaha kami tidak pernah sia – sia, usaha orangtua saya lebih tepatnya.

Kedua orangtua saya bukan seseorang yang sangat ‘talkative’ dengan anak – anaknya, tetapi nilai dari sikap mereka lebih besar dan kuat andilnya dalam membentuk kami.

Intinya, jangan pernah menyakiti orang lain.
Jangan berbohong.
Jangan menginginkan apa yang orang lain punya, jangan serakah.
Semua harus dijalani dengan niat baik.
Dan harus sanggup kerja keras, menabung yang baik untuk kesejahteraan nanti.
Dan jangan bergantung dengan siapapun, terutama masalah finansial, walau dengan pasanganmu sendiri.

Nilai – nilai klise dan sederhana yang semua dari kita tahu, kita akrab dengan semua kata – kata itu, dan buat saya semua ajaran itu sudah mendarah-daging di jiwa saya.
Saya masih belajar dari semua ajaran itu, saya masih berusaha meluruskan hidup saya sesuai dengan hal itu, dan saya masih sering bolong dengan ajaran itu.
Tidak ada manusia yang sempurna, bukan?
Tapi apa yang dijalankan dengan niat baik pasti diberkati, saya yakin itu.
Dan dari semua ajaran itu, yang paling berkesan tentu nilai – nilai yang kita dapat dari pembelajaran kita tentang hidup yang kita jalani.
Melihat cara orang lain hidup, apa yang mereka dapatkan sebagai upahnya. Menjalani hidup dengan cara kita dan apa yang kita dapatkan sebagai upahnya. Tentu hal itu lebih bermakna dalam dari semua ajaran, iya kan?

Dan dari semua pelajaran hidup saya, saya selalu berusaha untuk tidak menghakimi dan mengadili orang lain, baik dengan sikap maupun dengan perkataan dan tulisan saya.
Saya masih belajar dan saya belum lulus.
Tapi setiap kali saya berharap saya akan terus naik kelas hingga saya lulus nanti.

Menurut mereka, orang – orang beragama, apa yang kita perbuat sekarang adalah ‘tabungan masa depan’ kita.
Jadi, kalau memang benar ini adalah tabungan masa depan, saya hanya tidak ingin berakhir dengan banyak doa sakit hati dari siapapun.

Saya masih belajar, semoga hidup saya masih panjang untuk bisa terus belajar.
Dan semoga saya, dan kita semua, bisa lulus dengan baik.

Amin.


1 comments:

Cherry said...

Being nice to others, won't cost you anything at all. #readsomewhere

We're on this same big 'ol school called Life. We should be nice to each other ya. *gandengan sama mey*

Anw, love the kitten! miaw! =^^=