memory lane
"You don't "get over" that sort of thing. You don't wake up one morning with the pain miraculously gone. It doesn't ever stop or leave you. It's not about forgetting, it's about learning with a new part of yourself. That's how you deal with it. - @PeachieSays"
Semalam aku sampai rumah jam 1 pagi.
Tidak, bukan bersenang – senang, mana pernah aku pergi sampai semalam itu hanya untuk bersenang – senang?
Semalam aku terpaksa ke kantor cabang lagi yang di luar kota, menyelesaikan ‘kerusuhan’ yang ada disana, belum selesai semua tapi setidaknya sudah lebih baik sekarang dibanding sebelumnya.
Semalam aku melewati jalan – jalan yang sudah aku tinggalkan selama beberapa bulan karena kesibukanku di kantor. Iya, sudah lebih dari 4 bulan aku tidak menengok kantor – kantor cabang lain, di kantor pusat pekerjaan masih menumpuk, aku tidak diperbolehkan ikut oleh atasanku jadi hanya temanku yang lain yang melihat perkembangan kantor – kantor itu.
Semalam aku melewati jalan yang sama ketika dulu aku masih bersama kamu. Di jalan itu, dulu, sepanjang perjalanan aku ditemani kamu yang mengobrol lewat blackberry messenger. Kamu yang sepanjang jalan dengan sabar menanti jawaban dari aku yang sudah lelah fisik dan pikiran karena seharian ada di jalan dan berpikir keras untuk menyelesaikan pekerjaan di kota itu.
Semalam hujan deras. Dan kamu tahu kan betapa aku mencintai hujan?
Alasannya masih sama. Aku mencintai hujan karena ketika hujan semua kenangan itu seperti kembali ke permukaan dan karena hujan selalu berhasil membuatku mengingat semua hal yang pernah terjadi denganku tanpa pernah merasa bersalah.
Hujan itu romantis, iya kan?
Semalam aku melewati jalanan itu dalam hujan, dingin tapi aku merasa… tenang. Aku merasa perasaaanku tenang ketika kembali mengingat kamu.
Kamu yang datang dalam pikiranku lagi dan aku sama sekali tidak merasa sedih ataupun marah. Aku merasa… entahlah. Aku tidak tahu bagaimana mengartikannya. Diantara kehangatan mengingat kenangan itu, ketenangan karena aku tidak lagi merasa marah ataupun sedih karena bayangan kamu, dan aku merasakan rasa kangen itu lagi dengan kamu.
Seandainya aku ada di posisi yang sama seperti semalam tapi kembali ke waktu sembilan bulan yang lalu, mungkin aku tidak bisa merasakan hal yang sama. Pasti aku akan merasa sedih dan marah, tanpa sadar menangisi kenangan kita dan keputusan kita untuk berpisah tanpa akhir itu.
Tapi semalam berbeda.
Semua perasaan ketika aku melewati setiap sudut kota yang pernah kita lewati bersama ataupun kembali ke tempat – tempat yang pernah kita datangi bersama, rasanya sekarang sudah berbeda. Aku tidak bilang aku telah melupakanmu, justru aku masih terus mengingat kamu.
Dulu aku sangat membenci keluar rumah dan mengelilingi kota bahkan perjalanan ke kantorku pun aku sangat membencinya. Karena semua sudut jalan itu mengingatkan aku dengan kamu.
Tapi sekarang, aku menikmatinya.
Sekarang aku tersenyum ketika melewatinya. Tersenyum karena ada kamu disana pernah mengukir satu cerita tentang kita. Pernah ada kita yang terukir di setiap sudut jalan itu.
Saya dan kamu dengan semua versi masing – masing tentang kenangan kita. Saya dan kamu dengan cerita yang tidak pernah bersinggungan. Saya dan kamu dengan bahagia yang tidak pernah bertemu.
Saya kangen kamu, sayang.
Tertanda,
Kenangan yang kamu ingkari.
0 comments:
Post a Comment