the truth hurts and lies worse, how can I give anymore, when I love you a little less than before?
Broken strings - James Morrison
Ini tentang waktu yang berlalu dan kebersamaan yang tidak terhitung.
Ini tentang saya, kamu, dan semua hal yang seharusnya tidak berakhir.
Ini tentang perjalanan yang akhirnya berhenti di titik yang mungkin sudah saya inginkan tapi tidak pernah berhasil terungkap.
Ini tentang delapan tahun di antara kita.
Delapan tahun…. bukan waktu yang sebentar bukan?
Selama delapan tahun bersama, mencoba saling mengenal, mencoba merajut kata yang berlandaskan perasaan sayang, mencoba mengukir hari bersama sampai di akhir yang kita tidak tahu akan berhenti dimana.
Delapan tahun dan kita berhenti di garis yang menurut mereka sudah hampir selesai, menurut mereka kita tinggal selangkah lagi akan masuk ke kehidupan baru.
Delapan adalah angka yang menurut kepercayaan moyang kita adalah angka baik yang akan terus melingkar dan tak’kan terputus.
Tapi lihat yang kita punya ketika kita sampai di angka itu?
Saya bukan menghitung berapa banyak yang terhabiskan selama delapan tahun itu, saya juga bukan menghitung berapa banyak yang saya berikan selama delapan tahun, saya juga tidak sedang mengajak kamu berhitung tentang kita selama delapan tahun itu.
Menyesalkah saya melepaskan semua ini?
Jawabannya: saya tidak tahu.
Saya dan kamu bergulat membangun istana kita selama delapan tahun.
Saya dan kamu adalah dua anak manusia yang berjuang mengalahkan ego masing – masing, bertahan di antara jarak ratusan bahkan ribuan kilometer yang membentang.
Kita sudah menjalaninya selama delapan tahun, iya terkadang saya pun tidak mempercayainya kita bisa berhenti di angka itu.
Saya dan kamu, kita menjalaninya dengan beberapa kesalahan, kita hanya manusia biasa iya kan?
Saya yang memaafkan kesalahan kamu tapi kemudian terulang lagi dan lagi.
Saya yang berbuat kesalahan dan kamu menghitungnya dua kali dari kesalahan itu.
Kita mencoba saling mengerti dan saya pikir saya sudah mengerti.
Tapi selama dua tahun ini ketika saya menjauh ribuan kilometer dari kamu, saya berpikir dan saya menemukan banyak hal lain.
Selama dua tahun ini ketika saya memutuskan mencari impian saya, kamu terlihat mendukung, tapi ternyata di antara jarak ribuan kilometer dan perbedaan waktu antara kita, kamu juga menemukan hal lain untuk mengisi hari kamu.
Saya dan kamu sudah berhenti berusaha kemarin. Saya dan kamu punya delapan tahun sebagai waktu yang berharga. Saya dan kamu bukan lagi dua anak kecil yang akan saling membenci meski kita berpisah karena kesalahan ego kita.
Saya dan kamu jelas kita sudah tidak bisa sejalan sekarang.
Saya dan kamu juga jelas tahu kalau kita tidak bisa mengelak takdir jika akhirnya kita kembali bersama.
Tapi saya dan kamu lebih baik seperti ini, melepaskan delapan tahun kita dan membangun istana kita masing – masing kembali, kamu dengan mereka yang mungkin lebih bisa mengerti dan ada di sisi kamu, saya dengan impian saya yang masih tertinggal untuk diselesaikan.
Delapan tahun sayang, apa kita masih punya kesempatan untuk mengucapkan selamat tinggal untuk kenangan itu?
Delapan tahun dan saya tidak merasa terlalu kehilangan, aneh bukan?
Delapan tahun, terima kasih.
Dan sudah, kamu berhentilah berusaha, jawabannya akan tetap sama.

1 comments:
My beautiful Mey, yang sedang galau-galaunya karena cinta. *ambil tisu*
Post a Comment