February 25, 2012

Senja

Matahari masih bersinar terik, memamerkan sinar keemasannya yang mengundang peluh berjuta manusia di bawahnya.
Membagi setitik kekuatannya untuk para tumbuhan, menyegarkan mereka dan membiarkannya berkembang.
Meneteskan sedikit hawanya untuk meringankan tugas para ibu dengan mengeringkan cucian mereka.
Matahari tertawa, senang.
Di balik hujatan dari mulut manusia akan hawa panasnya, dia masih tetap lebih banyak dipuja dan dibutuhkan, iya kan?

Matahari tidak ingin bergeser, tetap ingin terus disana, di singasananya.
Tapi bulan harus datang, membiarkan para manusia ingat untuk beristirahat.

Senja datang.
Semilir angin hangatnya, bercampur antara wangi matahari dan hawa dingin rembulan.
Disana dia berdiri, di antara siang dan malam.

Aku mencintai senja. Sama besarnya seperti aku menyukai hujan.

Senja yang hangat. Senja yang keemasan.
Senja yang mengingatkan aku dengan kamu.

Di balik sinar keemasan yang perlahan meredup di balik kekuatan gelap malam.
Dia akan datang, selalu. Berdiri dengan gagah disana, menyiapkan tempat untuk malam.
Di balik sinar indahnya yang ditunggu sejuta umat, tanpa dihujat, tidak pernah.

Aku mencintaimu sama seperti aku mencintai senja.
Menikmati warnanya yang indah sama seperti aku menikmati kehangatan dan perhatian kamu.
Tapi sama seperti senja, kamu hanya datang sesaat.
Sama seperti senja yang datang hanya untuk menyiapkan tempat untuk malam.
Sama seperti senja yang hanya mampir untuk memberi manusia waktu bersiap sebelum lelap beristirahat.

Kamu ada disana, menjadi senja untukku.
Dan sama seperti aku mencintai senja, tapi tidak pernah merasa kehilangan ketika dia pergi.
Terima kasih senjaku, kamu datang meski sesaat, tapi bisa menghangatkan aku dengan kenangan.

Kemarilah, datanglah lagi.
Aku masih mencintaimu dengan cara yang sama, hanya tidak akan pernah tersakiti meski kamu harus berulang pergi.



0 comments: