February 28, 2012

Unwell

Berhenti di titik yang sama.
Berpikir sudah selesai dan sudah sembuh.
Bertemu di persimpangan jalan,
Kembali mencoret luka yang (ternyata) masih belum juga sembuh.

Bertekad kuat dan berusaha tetap kuat,
Atau mungkin selama ini memang hanya berpura – pura?

Bangkit dan jatuh lagi.
Tetap sendirian berusaha menyapu kenangan.
Ingin menangis tapi malu dengan diri sendiri.
Akhirnya memendamnya sendiri, menunggu kapan akan meledak.

Kamu,
Kamu tahu kenyataannya seperti apa.
Sudah lewat sampai setahun, tapi masih tidak kuat menerima kenyataan?

Kamu tahu dengan jelas kejadiannya seperti apa.
Kamu tahu dengan sangat jelas kamu menghadapi orang – orang seperti apa.
Lalu apa yang kamu harapkan?
Waktu berhenti dan memutar balik semua permainan itu hingga kamu tidak tersakiti?

Kamu yang bilang kamu sudah ikhlas dan memaafkan, bukan?
Lalu kenapa masih merasa sakit karena hal yang sama
Padahal kamu sudah tahu kenyataan yang ada seperti apa.

Aku ingin memarahimu,
Mungkin teman – temanmu pun sudah bosan mendengar hal yang sama
Tapi kenapa kamu tidak?

Berhentilah sudah,
Kamu tahu sakitnya seperti apa kan?
Kenapa masih bertahan menyimpannya selama itu?

Berhentilah.
Cari kebahagiaan kamu.
Jangan berharap Tuhan akan membuat keinginanmu itu terkabul.
Kamu tahu kamu berhadapan dengan cerita dan orang – orang seperti apa.

Cukup, berhenti sakiti diri kamu.
Berhenti melihat mereka.
Kamu sendiri sudah lelah dan malu kan merasakan sakit karena alasan yang sama terus – menerus?

Kalau memang belum selesai, akui saja.
Menangislah sekencangnya, sepuas kamu.
Toh hati kamu itu bukan dari besi.
Kamu sendiri juga tahu kan kekuatannya menyimpan sakit seberapa besar?

Masih merasa sendirian?
Malu bercerita dengan temanmu?

Kalau kamu merasa sendirian,
Lalu bagaimana nasibku, yang kamu sakiti terus – menerus karena diam – diam kamu masih menyimpan kenangan luka dan terus mencorengnya ketika dia sudah (hampir) kuat berdiri sendiri?

Kalau kamu merasa sakit.
Itu sebenarnya teriakan aku yang mengasihani kamu.

Jika aku, hatimu, bisa mengasihani kamu yang terus menyimpan luka.
Kenapa kamu tidak bisa mengasihani aku yang terus – terusan terluka karena keegoisan kamu menyimpan kenangan?

Kita sama – sama bukan pendekar yang terbuat dari besi.
Kita sama – sama daging yang dinutrisi dari kenangan.
Kalau aku bisa sakit karena kenangan, apalagi kamu yang merasakan seluruhnya.

Berhentilah.
Kemari, datanglah lagi.
Peluk aku.
Aku akan memeluk kamu, perlahan membuang kenangan yang membuat kamu luka itu.

Aku akan disini, menemani kamu menangis, lagi dan lagi.
Tanpa bosan.
Sampai kamu benar – benar bangkit dan berhenti menyakiti diri kamu sendiri.

4 comments:

Gogo Caroselle said...

aku masi ga habis pikir sebenernya mey, masi ada gt ta yang tega nyakitin perempuan secantik kamu.. I mean i dont want to sound so superficial but gosh you are gorgeous.. how could anyone hurt someone that gorgeous is beyond me..

cheer up kay sweetcheek.. *hugs* :)

MeY said...

*terharu*

thank you Go,
Well, everyone have their own reasons that we can't understand ya? ;)

i will be ok, i promise it to myself.

*pelukkkkk*

thank you so much honey, get well soon for you :*

Mine and Me said...

aku nggak tahu mesti bilang apa baca tulisan ini...
rasanya nyesek banget nih hati..

yang kuat ya mbak mey, jangan sedih terus... keep smiling ^_^

MeY said...

Dear mine and me,

makasihhhh ya sayangg...

yes, i will keep smiling.
and of course, be strong, always :)

thank you so much yaa, *hugs* :*