February 01, 2012

You're (not) my first


Dear H,
It’s been a long time ago since the last time we met, right?
Four years. Yes, it’s been four years since the last time I saw you.

How are you now?
Do you still remember me?
Have you ever think about me?

Jujur saja, saya sudah semakin lupa dengan wajah kamu.
Saya juga sudah lupa dengan semua kisah pahit tentang kita.
Dan tentang kenangan baik tentang kita, saya pun sudah tidak terlalu mengingatnya.
Waktu banyak menghilangkan semua cerita, kenangan, dan perasaan itu.
Tapi anehnya, saya sama sekali tidak merasa kehilangan.

Kamu bukan yang pertama yang saya cintai, tapi kamu jelas adalah orang pertama yang resmi mengikat saya dalam sebuah hubungan.
Kamu mengajarkan saya banyak. Kamu memberi saya banyak.
Menjalani satu hubungan dengan usia saya yang masih muda dan dengan emosi yang sama sekali tidak stabil, tidak mudah bukan?

Saya dan kamu selama beberapa waktu merapal mantra yang sama atas nama cinta dan kasih sayang, menjalani kenikmatan dunia tentang dua anak manusia yang tergila – gila pada masanya. Saat kemudian kita, atau lebih tepatnya kamu, memutuskan berjalan berpisah, entah apa yang kamu rasakan.

Saat itu, saya mempercayai kamu tidak merasa kehilangan, apalagi dengan kenyataan kamu sudah memiliki dia tidak lama dari waktu kita berpisah. Tapi saya juga tidak tahu.
Saat itu, saya melakukan kesalahan – kesalahan fatal karena keinginan saya mempertahankan semuanya bersamaan dengan emosi saya yang sama sekali tidak stabil karena kehilangan kamu.
Tapi sekarang, empat tahun sudah, dan saya sudah kehilangan semua rasa dan memori jelas tentang itu semua, tentang kita.

Saya dan kamu jelas kita sudah berjalan di jalan yang berbeda.
Perbedaan jarak yang sejak awal membentang di antara kita, lingkaran pertemanan yang berbeda, dan kota yang terpisahkan selat, wajar bukan jika kita tidak pernah bertemu lagi?

Empat tahun saya tidak melihat kamu, pertemuan terakhir kita berakhir dengan pelukanmu juga yang terakhir. Pembicaraan terakhir kita penuh dengan amarah dan emosi.

Empat tahun saya tidak tahu tentang kabar kamu, semoga kamu baik – baik saja. Semoga kamu sudah dapatkan pekerjaan yang baik. Semoga kamu sudah dapatkan pasangan yang baik. Semoga hidup kamu sudah lebih teratur dan kamu sudah semakin bisa merencanakan masa depan dengan baik.

Empat tahun berpisah dan waktu mengajarkan saya jika saya bisa kehilangan semua rasa dan memori itu tanpa pernah merasa kehilangan (lagi), mungkin nanti saya juga bisa mengulang rasa ini untuk kenangan saya dengan dia.

Kamu, semoga hidupmu baik – baik saja.
Mungkin jika nasib berbaik hati, kita bisa bertemu lagi dan bertegur sapa. Sampai jumpa ya, dan terima kasih.



Tertanda,
(Mantan) Kekasihmu empat tahun yang lalu.


1 comments:

Lita said...

Aduh Meyyyy... kenapa aku jadi berkaca-kaca bacanya? Hiks!