I don’t know what’s going on now.
I don’t know how to describe all these things.
I don’t know how to tell myself.
I don’t know how to say it.
I made a mistake once.
Of course I don’t want to make another same mistake
Or make myself fall into the same hole twice.
I feel happy when I’m with you
I feel comfortable when you’re beside me
I feel warm every time we talk
I feel be loved every time I see your eyes
Is it enough?
If it isn’t enough, I don’t know what else...
March 26, 2012
March 21, 2012
Thank you :)
Dear you,
Thank you for making me smiles.
Thank you for being nice to me.
Thank you for giving me another experience.
Thank you for coming to my life with no plan.
What happens to us, I believe it’s not a coincidence.
What we have now, I hope it’s not going to hurt us, or one of us.
Maybe it’s too fast if we say that we feel pleasant each other.
But I hope, it’s not too fast if I say we’re happy when we spent our time together.
For any single little things that happen to us, I hope it is sincere from us.
For any single laugh and words that come from us, I hope it is honest from us.
For any single smiles in our face, I hope it is a true smile.
Dear you, thank you for the feelings that I’ve forgot for almost one year.
Thank you for coming in the right time, at least for me.
Let’s just face it.
I wouldn’t give my heart a lot of spaces to insert with hopes.
I learn much from my experiences.
And I don’t want to make another same mistake anymore.
Even the donkey wouldn’t fall in the same hole, right?
It’s too much words, I have to stop it.
But, once again, thank you.
Thank you for making me smiles.
Thank you for being nice to me.
Thank you for giving me another experience.
Thank you for coming to my life with no plan.
What happens to us, I believe it’s not a coincidence.
What we have now, I hope it’s not going to hurt us, or one of us.
Maybe it’s too fast if we say that we feel pleasant each other.
But I hope, it’s not too fast if I say we’re happy when we spent our time together.
For any single little things that happen to us, I hope it is sincere from us.
For any single laugh and words that come from us, I hope it is honest from us.
For any single smiles in our face, I hope it is a true smile.
Dear you, thank you for the feelings that I’ve forgot for almost one year.
Thank you for coming in the right time, at least for me.
Let’s just face it.
I wouldn’t give my heart a lot of spaces to insert with hopes.
I learn much from my experiences.
And I don’t want to make another same mistake anymore.
Even the donkey wouldn’t fall in the same hole, right?
It’s too much words, I have to stop it.
But, once again, thank you.
Labels:
merah muda
March 19, 2012
coincidence
I believe that there’s no coincidence in this world.
For every single little thing that happens in our life, it always has a reason or more.
Pekerjaan baru yang datang secara tiba – tiba tanpa diharapkan lagi.
Setelah berbulan – bulan dilupakan dan sudah diikhlaskan.
Ikhlas melepas impian, ikhlas bertahan dengan yang ada.
Saya bersyukur untuk hadiah ini.
Kamu yang datang mendadak, tanpa direncanakan.
Saya dan sepupu kamu sempat berbicara sedikit soal kamu.
Tapi saya tidak pernah berpikiran banyak karena itu semua hanya pembicaraan iseng mengisi waktu antara kami.
Pembicaraan itu sepertinya berlangsung beberapa minggu yang lalu, sempat terucap lagi ketika bertemu, tapi kemudian saya lupa.
Tapi lalu, malam itu, kamu datang.
Dan sampai hari ini, saya bahagia kamu hadir.
Sudah cukupkah alasan untuk saya bertahan?
Saya dan kamu, bertahun lalu pernah bertemu. Tapi mungkin kamu lupa.
Saya dan kamu, tanpa sadar berada di lingkaran pertemanan yang sama, tapi tidak pernah bertatap muka. Aneh bukan?
Saya dan kamu, tanpa sengaja kita menjadi menikmati pembicaraan random antara kita.
Saya dan kamu, entah apa yang ada di masing – masing pikiran kita.
Saya sudah memberikan batas yang jelas untuk masalah hati.
Saya tidak akan menyediakan banyak tempat luang untuk diisi oleh harapan.
Saya tidak akan memberikan banyak waktu untuk impian yang berhubungan dengan masalah hati.
Tapi ketika kamu datang, semua pemikiran itu hampir musnah.
Baru hampir, sayang.
Karena saya masih tetap berhati – hati, mencoba tidak lengah dengan memberikan banyak kelonggaran.
Saya dan kamu, saya tahu kita baru mulai mencoba.
Semoga kedua hal yang terjadi bersamaan dalam satu minggu kemarin yang hanya berselang satu hari itu, menjadi benar – benar kado terindah menjelang ulang tahun saya.
Semoga kejadian satu tahun lalu yang saya dapatkan menjelang ulang tahun saya tidak akan terulang lagi.
Saya ingin, untuk tahun ini, saya mendapat memori yang baik untuk ulang tahun saya, menutup memori buruk untuk kenangan satu tahun lalu. Amen.
Permintaan saya tidak terlalu banyak, bukan?
For every single little thing that happens in our life, it always has a reason or more.
Pekerjaan baru yang datang secara tiba – tiba tanpa diharapkan lagi.
Setelah berbulan – bulan dilupakan dan sudah diikhlaskan.
Ikhlas melepas impian, ikhlas bertahan dengan yang ada.
Saya bersyukur untuk hadiah ini.
Kamu yang datang mendadak, tanpa direncanakan.
Saya dan sepupu kamu sempat berbicara sedikit soal kamu.
Tapi saya tidak pernah berpikiran banyak karena itu semua hanya pembicaraan iseng mengisi waktu antara kami.
Pembicaraan itu sepertinya berlangsung beberapa minggu yang lalu, sempat terucap lagi ketika bertemu, tapi kemudian saya lupa.
Tapi lalu, malam itu, kamu datang.
Dan sampai hari ini, saya bahagia kamu hadir.
Sudah cukupkah alasan untuk saya bertahan?
Saya dan kamu, bertahun lalu pernah bertemu. Tapi mungkin kamu lupa.
Saya dan kamu, tanpa sadar berada di lingkaran pertemanan yang sama, tapi tidak pernah bertatap muka. Aneh bukan?
Saya dan kamu, tanpa sengaja kita menjadi menikmati pembicaraan random antara kita.
Saya dan kamu, entah apa yang ada di masing – masing pikiran kita.
Saya sudah memberikan batas yang jelas untuk masalah hati.
Saya tidak akan menyediakan banyak tempat luang untuk diisi oleh harapan.
Saya tidak akan memberikan banyak waktu untuk impian yang berhubungan dengan masalah hati.
Tapi ketika kamu datang, semua pemikiran itu hampir musnah.
Baru hampir, sayang.
Karena saya masih tetap berhati – hati, mencoba tidak lengah dengan memberikan banyak kelonggaran.
Saya dan kamu, saya tahu kita baru mulai mencoba.
Semoga kedua hal yang terjadi bersamaan dalam satu minggu kemarin yang hanya berselang satu hari itu, menjadi benar – benar kado terindah menjelang ulang tahun saya.
Semoga kejadian satu tahun lalu yang saya dapatkan menjelang ulang tahun saya tidak akan terulang lagi.
Saya ingin, untuk tahun ini, saya mendapat memori yang baik untuk ulang tahun saya, menutup memori buruk untuk kenangan satu tahun lalu. Amen.
Permintaan saya tidak terlalu banyak, bukan?
Labels:
random
March 17, 2012
Please, remind me
Ingatkan saya kalau saya pernah berusaha sekuat tenaga mempertahankan kamu malam itu.
Ingatkan saya kalau saya pernah berusaha menarik tangan kamu kembali untuk memeluk saya.
Ingatkan saya kalau saya pernah meminta hingga memohon untuk kamu menengok ke arah saya sekali lagi.
Ingatkan saya tentang kenangan itu, lagi dan lagi, agar saya tidak akan pernah terjatuh sekali lagi dengan permainan kamu.
Ingatkan saya kalau saya pernah merendahkan diri saya di depan wanita itu.
Meminta dia untuk berbicara dengan kamu, supaya kamu datang menemui saya.
Ingatkan saya kalau saya pernah ada disana, berusaha membuat wanita itu percaya kalau kamu masih memiliki rasa untuk saya.
Ingatkan saya kalau wanita itu pernah membuang saya dengan ego dia, membuat saya jatuh, dan dia menjatuhkan saya lebih dalam lagi lewat kata - katanya.
Ingatkan saya kalau semua itu pernah nyata terjadi diantara kita.
Diantara saya, kamu, dan dia.
Ingatkan saya tentang luka itu ketika saya melihat kamu lagi.
Ingatkan saya kalau kamu pernah menyakiti saya dengan mulutmu yang sebelumnya masih membisikkan sayang di telinga saya.
Ingatkan saya kalau kamu pernah ada disini, di samping saya, memeluk saya erat sebelum akhirnya kamu membuang saya dan menjatuhkan saya dengan tanpa merasa bersalah.
Ingatkan saya kalau diantara kita hanya ada kebohongan.
Ingatkan saya kalau diantara kita tidak pernah ada ketulusan.
Ingatkan saya kalau kenangan diantara kita hanyalah sebagian dari mimpi buruk saya yang sudah berakhir.
Ingatkan saya semua luka itu ketika kamu muncul di hadapan saya.
Apa yang kamu harapkan memangnya dengan perpisahan satu tahun lalu?
Berharap saya masih menyimpan sejuta perasaan sayang setelah membaca penolakan tanpa menyesal dari kamu?
Berharap saya masih bisa menyayangi kamu setelah tahu kamu bersama dia, membangun istana kamu dengan tanpa memperdulikan air mata kesakitan saya?
Apa yang kamu harapkan memangnya diatas luka yang pernah kamu buat itu?
Kamu berharap luka itu tetap bisa tertutup dengan semua perasaan sayang saya?
Saya tidak sebodoh itu.
Saya tidak senaif itu dan bilang saya masih berharap kamu kembali dan kita bersama.
Saya tidak setolol itu untuk tidak tahu kamu bisa semena – mena bersama dia saat masalah kita tidak pernah terselesaikan.
Apa memangnya yang kamu harapkan terjadi dengan hati saya setelah satu tahun perpisahan?
Ingatkan saya kalau saya pernah berusaha menarik tangan kamu kembali untuk memeluk saya.
Ingatkan saya kalau saya pernah meminta hingga memohon untuk kamu menengok ke arah saya sekali lagi.
Ingatkan saya tentang kenangan itu, lagi dan lagi, agar saya tidak akan pernah terjatuh sekali lagi dengan permainan kamu.
Ingatkan saya kalau saya pernah merendahkan diri saya di depan wanita itu.
Meminta dia untuk berbicara dengan kamu, supaya kamu datang menemui saya.
Ingatkan saya kalau saya pernah ada disana, berusaha membuat wanita itu percaya kalau kamu masih memiliki rasa untuk saya.
Ingatkan saya kalau wanita itu pernah membuang saya dengan ego dia, membuat saya jatuh, dan dia menjatuhkan saya lebih dalam lagi lewat kata - katanya.
Ingatkan saya kalau semua itu pernah nyata terjadi diantara kita.
Diantara saya, kamu, dan dia.
Ingatkan saya tentang luka itu ketika saya melihat kamu lagi.
Ingatkan saya kalau kamu pernah menyakiti saya dengan mulutmu yang sebelumnya masih membisikkan sayang di telinga saya.
Ingatkan saya kalau kamu pernah ada disini, di samping saya, memeluk saya erat sebelum akhirnya kamu membuang saya dan menjatuhkan saya dengan tanpa merasa bersalah.
Ingatkan saya kalau diantara kita hanya ada kebohongan.
Ingatkan saya kalau diantara kita tidak pernah ada ketulusan.
Ingatkan saya kalau kenangan diantara kita hanyalah sebagian dari mimpi buruk saya yang sudah berakhir.
Ingatkan saya semua luka itu ketika kamu muncul di hadapan saya.
Apa yang kamu harapkan memangnya dengan perpisahan satu tahun lalu?
Berharap saya masih menyimpan sejuta perasaan sayang setelah membaca penolakan tanpa menyesal dari kamu?
Berharap saya masih bisa menyayangi kamu setelah tahu kamu bersama dia, membangun istana kamu dengan tanpa memperdulikan air mata kesakitan saya?
Apa yang kamu harapkan memangnya diatas luka yang pernah kamu buat itu?
Kamu berharap luka itu tetap bisa tertutup dengan semua perasaan sayang saya?
Saya tidak sebodoh itu.
Saya tidak senaif itu dan bilang saya masih berharap kamu kembali dan kita bersama.
Saya tidak setolol itu untuk tidak tahu kamu bisa semena – mena bersama dia saat masalah kita tidak pernah terselesaikan.
Apa memangnya yang kamu harapkan terjadi dengan hati saya setelah satu tahun perpisahan?
Labels:
memories
March 16, 2012
First Farewell Notes
Entah saya harus senang atau sedih.
Setelah perjuangan melepaskan kekecewaan karena beberapa kali mengalami lamaran kerja tanpa hasil akhir, akhirnya kemarin saya diterima kerja di salah satu bank di kota saya.
Iya, kembali lagi ke bank setelah dua tahun terlempar ke perusahaan lain.
Walau bukan jabatan yang sama seperti yang dulu saya kerjakan, tapi setidaknya masih ada sedikit hubungannya.
Memulai semuanya kembali dari awal.
Belajar lagi dari nol
Mengenal orang – orang baru lagi.
Beradaptasi dengan lingkungan kerja yang saya ngga tahu seperti apa.
Menerima keadaan ‘membeli kucing dalam karung’ untuk para atasan.
Saya hanya bisa berdoa dan berharap, semoga ini semua menjadi jalan dan tempat terakhir
Sekian lama saya bekerja, setidaknya sudah tahu tipikal para pimpinan itu seperti apa.
Setidaknya saya sudah punya beberapa tahun untuk mengenal teman kerja itu bentuknya seperti apa saja.
Setidaknya saya sudah punya gambaran tekanan kerja itu seperti apa.
Tempat saya sekarang berdiri adalah rumah saya.
Bagaimanapun keadaan disini, jauh di dalam hati saya, saya sayang tempat ini.
Saya belajar dan mendapatkan banyak disini.
Tapi saya juga harus memikirkan masa depan saya.
Ada banyak pertimbangan masa depan yang (mungkin) akan lebih bisa saya dapatkan di tempat lain. Semoga.
Dan sekarang, masih 30 hari lebih menuju tempat baru.
Manusia berencana, Tuhan yang menentukan.
Tapi apapun itu, semoga semuanya lancar.
Masih 30 hari lebih menuju perpisahan dengan tempat ini.
Saya sedih.
Mari salahkan saja hormon, bagaimana?
Karena saya menulis ini semua dengan mata berkaca – kaca.
Saya pasti akan merindukan tempat ini.
Para atasan yang sudah begitu baik dengan saya.
Para atasan yang sudah begitu percaya dengan saya.
Para atasan yang sudah mengajari saya banyak.
Para teman yang membentuk isi kepala dan hati saya.
Mungkin terlalu awal, tapi saya mengucapkan terima kasih untuk semuanya. Terima kasih banyak.
Setelah perjuangan melepaskan kekecewaan karena beberapa kali mengalami lamaran kerja tanpa hasil akhir, akhirnya kemarin saya diterima kerja di salah satu bank di kota saya.
Iya, kembali lagi ke bank setelah dua tahun terlempar ke perusahaan lain.
Walau bukan jabatan yang sama seperti yang dulu saya kerjakan, tapi setidaknya masih ada sedikit hubungannya.
Memulai semuanya kembali dari awal.
Belajar lagi dari nol
Mengenal orang – orang baru lagi.
Beradaptasi dengan lingkungan kerja yang saya ngga tahu seperti apa.
Menerima keadaan ‘membeli kucing dalam karung’ untuk para atasan.
Saya hanya bisa berdoa dan berharap, semoga ini semua menjadi jalan dan tempat terakhir
Sekian lama saya bekerja, setidaknya sudah tahu tipikal para pimpinan itu seperti apa.
Setidaknya saya sudah punya beberapa tahun untuk mengenal teman kerja itu bentuknya seperti apa saja.
Setidaknya saya sudah punya gambaran tekanan kerja itu seperti apa.
Tempat saya sekarang berdiri adalah rumah saya.
Bagaimanapun keadaan disini, jauh di dalam hati saya, saya sayang tempat ini.
Saya belajar dan mendapatkan banyak disini.
Tapi saya juga harus memikirkan masa depan saya.
Ada banyak pertimbangan masa depan yang (mungkin) akan lebih bisa saya dapatkan di tempat lain. Semoga.
Dan sekarang, masih 30 hari lebih menuju tempat baru.
Manusia berencana, Tuhan yang menentukan.
Tapi apapun itu, semoga semuanya lancar.
Masih 30 hari lebih menuju perpisahan dengan tempat ini.
Saya sedih.
Mari salahkan saja hormon, bagaimana?
Karena saya menulis ini semua dengan mata berkaca – kaca.
Saya pasti akan merindukan tempat ini.
Para atasan yang sudah begitu baik dengan saya.
Para atasan yang sudah begitu percaya dengan saya.
Para atasan yang sudah mengajari saya banyak.
Para teman yang membentuk isi kepala dan hati saya.
Mungkin terlalu awal, tapi saya mengucapkan terima kasih untuk semuanya. Terima kasih banyak.
Labels:
office
March 12, 2012
be strong, honey
Hai hati, apa kabar kamu disana?
Saya sedang tidak baik hari ini,Pekerjaan terlalu menguasai mood dan isi otak saya belakangan ini.
Kepenatan dengan rutinitas, tuntutan tugas, dan kejadian ‘pembicaraan’ yang ‘tidak sengaja’ saya temukan minggu kemarin masih sangat menguasai otak saya sampai hari ini.
Dan mari tambahkan permasalahan hormon.
Perlarian saya? Ngga ada.
Kamu baik – baik saja kan disana?
Kalau saya perhatikan, kamu sudah tidak terlalu terganggu lagi dengan masalah dia, si satu tahun lalu itu kan?
Kamu sudah tidak terlalu sering mengingat dia, kamu sudah tidak sering mengunjungi dia, kamu juga sudah tidak terlalu terpengaruh ketika melihat wajah dia, meski terkadang masih ada rasa sakit yang terselip karena update foto mereka berdua, ya?
Tapi sebentar lagi tanggal 5 april, kamu harus kuat ya.
Saya harap kamu tidak akan menangis lagi nanti saat tepat tanggal 5 april.
Apa rencana kamu saat tanggal itu?
Apa kamu berencana mengajak saya berkeliling nostalgia pada tanggal itu?
Apa kamu ingin membawa saya melewati deretan kenangan itu lagi sampai hari terakhir?
Tapi saya sudah tidak terlalu mengingat detail semuanya.
Perlahan waktu mengusir bayang – bayang kenangan itu.
Dan anehnya, saya tidak terlalu merasa kehilangan apalagi sedih.
Mungkin karena sudah lewat terlalu lama.
Sudah hampir satu tahun, sayang.
Sekarang saya tidak sedang baik.
Rasanya saya ingin teriak dan menangis sekencang – kencangnya.
Tapi saya harus bisa kuat.
Tidak boleh ada yang tahu kalau saya terluka karena pembicaraan mereka.
Hati, maaf, kali ini saya terpaksa mengandalkan kamu lagi.
Kali ini saya terpaksa meminta kamu untuk kuat lagi, lebih kuat dari sebelumnya.
Maaf, saya kembali egois, tapi saya tidak sanggup berdiri sendirian.
Labels:
inside heart
March 10, 2012
I'm not an angel
Kamu tidak bisa membuat semua orang senang, iya kan?
Apapun yang kamu lakukan,
Bagaimanapun sikap kamu,
Pada satu titik kamu akan menemukan satu orang atau lebih yang akan kecewa karena kamu
Kamu tidak bisa mengatur mood kamu untuk selalu diatas, iya kan?
Perasaan lelah dan kebosanan dengan rutinitas sanggup menurunkan mood kamu dari level paling atas menjadi level minus
Kamu tidak bisa berharap semua orang akan tersenyum sepanjang hari, iya kan?
Tapi dunia tidak mau tau,
Mereka selalu meminta.
Manusia lebih tepatnya.
Jika mereka tersenyum, kamu juga harus tersenyum.
Jika mereka bertanya, kamu harus menjawab.
Jika mereka meminta, kamu harus siap memberi, setiap waktu.
Jika mereka bersedih, kamu harus bisa membuatnya tersenyum.
Tidak peduli dengan apa yang ada di pikiran dan hati kamu.
Saya sedang belajar mengerti
Saya berusaha membuat semua orang menyukai saya
Saya berusaha membantu dengan seluruh tenaga dan ketahuan saya.
Saya berusaha menjadi penyeimbang disini.
Tapi sepertinya jalan saya salah.
Saya mengambil langkah yang salah.
Apa boleh saya berhenti melangkah?
Belum lelah, hampir.
Belum menyerah, tapi saya takut tidak mampu.
Saya menyerah ketika tahu ada yang membicarakan saya.
Mungkin saya terlalu berusaha untuk membuat mereka menyukai saya.
Hingga akhirnya melupakan perasaan sendiri
Mungkin saya terlalu kuat memaksa diri sendiri.
Mungkin saya terlalu memaksa perasaan saya.
Apapun yang kamu lakukan,
Bagaimanapun sikap kamu,
Pada satu titik kamu akan menemukan satu orang atau lebih yang akan kecewa karena kamu
Kamu tidak bisa mengatur mood kamu untuk selalu diatas, iya kan?
Perasaan lelah dan kebosanan dengan rutinitas sanggup menurunkan mood kamu dari level paling atas menjadi level minus
Kamu tidak bisa berharap semua orang akan tersenyum sepanjang hari, iya kan?
Tapi dunia tidak mau tau,
Mereka selalu meminta.
Manusia lebih tepatnya.
Jika mereka tersenyum, kamu juga harus tersenyum.
Jika mereka bertanya, kamu harus menjawab.
Jika mereka meminta, kamu harus siap memberi, setiap waktu.
Jika mereka bersedih, kamu harus bisa membuatnya tersenyum.
Tidak peduli dengan apa yang ada di pikiran dan hati kamu.
Saya sedang belajar mengerti
Saya berusaha membuat semua orang menyukai saya
Saya berusaha membantu dengan seluruh tenaga dan ketahuan saya.
Saya berusaha menjadi penyeimbang disini.
Tapi sepertinya jalan saya salah.
Saya mengambil langkah yang salah.
Apa boleh saya berhenti melangkah?
Belum lelah, hampir.
Belum menyerah, tapi saya takut tidak mampu.
Saya menyerah ketika tahu ada yang membicarakan saya.
Mungkin saya terlalu berusaha untuk membuat mereka menyukai saya.
Hingga akhirnya melupakan perasaan sendiri
Mungkin saya terlalu kuat memaksa diri sendiri.
Mungkin saya terlalu memaksa perasaan saya.
Mungkin saya yang terlalu berperasaan?

Labels:
what a life
March 05, 2012
Happy month anniversary
Selamat ulang bulan,
Hari ini sudah bulan ke-sebelas. Bulan depan kita akan genap satu tahun.
Apa kabarmu disana?
Sudah satu minggu ini aku mencari – cari kamu.
Aku merindukanmu, sangat merindukan kamu.
Aku berusaha mencari kamu,
Aku berusaha menumbuhkan kamu lagi,
Aku berusaha membuat kamu keluar ke permukaan lagi,
Meski dengan begitu aku harus menarik luka sekali lagi di hatiku.
Tapi aku tidak menemukan kamu.
Dan aku sedih.
Entahlah, jangan tanya kenapa.
Kamu tahu aku terlalu suka menyakiti diriku sendiri.
Aku merasa kehilangan kamu tidak lagi ada di tempat yang mudah aku lihat.
Tapi hatiku malah sepertinya terlihat lega.
Aku tidak tahu kenapa aku tidak bisa menemukan kamu lagi.
Kamu belum benar – benar pergi, aku tahu itu.
Karena samar aku masih menemukan kamu di tumpukan pikiranku, meski bukan lagi berada di baris paling atas.
Mungkin waktu yang menghilangkan kamu.
Mungkin luka yang menyamarkan kamu.
Mungkin rasa kebas yang menutupi kamu.
Mungkin kesibukanku yang tanpa sadar membuat kamu menjauh.
Baik – baiklah disana, nikmati tempatmu sekarang.
Mungkin seharusnya dari dulu kamu sudah ada disana.
Nanti, tanggal lima bulan depan, aku akan menegurmu lagi.
Dan saat itu aku akan mengucapkan ‘selamat ulang tahun’ untuk kamu.
Perayaan untuk awal bertemu kita, perayaan untuk awal cerita kita, perayaan untuk satu tahun kita.
Selamat ulang bulan, kenangan.
Hari ini sudah bulan ke-sebelas. Bulan depan kita akan genap satu tahun.
Apa kabarmu disana?
Sudah satu minggu ini aku mencari – cari kamu.
Aku merindukanmu, sangat merindukan kamu.
Aku berusaha mencari kamu,
Aku berusaha menumbuhkan kamu lagi,
Aku berusaha membuat kamu keluar ke permukaan lagi,
Meski dengan begitu aku harus menarik luka sekali lagi di hatiku.
Tapi aku tidak menemukan kamu.
Dan aku sedih.
Entahlah, jangan tanya kenapa.
Kamu tahu aku terlalu suka menyakiti diriku sendiri.
Aku merasa kehilangan kamu tidak lagi ada di tempat yang mudah aku lihat.
Tapi hatiku malah sepertinya terlihat lega.
Aku tidak tahu kenapa aku tidak bisa menemukan kamu lagi.
Kamu belum benar – benar pergi, aku tahu itu.
Karena samar aku masih menemukan kamu di tumpukan pikiranku, meski bukan lagi berada di baris paling atas.
Mungkin waktu yang menghilangkan kamu.
Mungkin luka yang menyamarkan kamu.
Mungkin rasa kebas yang menutupi kamu.
Mungkin kesibukanku yang tanpa sadar membuat kamu menjauh.
Baik – baiklah disana, nikmati tempatmu sekarang.
Mungkin seharusnya dari dulu kamu sudah ada disana.
Nanti, tanggal lima bulan depan, aku akan menegurmu lagi.
Dan saat itu aku akan mengucapkan ‘selamat ulang tahun’ untuk kamu.
Perayaan untuk awal bertemu kita, perayaan untuk awal cerita kita, perayaan untuk satu tahun kita.
Selamat ulang bulan, kenangan.
Labels:
memories
March 02, 2012
a season for everything
“To every thing there is a season,
and a time to every purpose under the heaven” – Eccleasiates 3:1
and a time to every purpose under the heaven” – Eccleasiates 3:1
Itu adalah sedikit kutipan dari salah satu ayat di Alkitab. Dan saya mempercayai hal itu, selalu ada waktu untuk segala sesuatu yang terjadi di dunia ini, sudah ada yang mengatur, sudah ada tanggal kadaluarsa untuk semua hal.
Ada waktu untuk menanam, ada waktu untuk menabur, ada waktu untuk menuai.
Ada waktu untuk bahagia, ada waktu untuk sedih.
Ada waktu untuk senang, ada waktu untuk susah.
Ada waktu untuk mendapatkan, ada waktu untuk kehilangan.
Ada waktu untuk lahir, ada waktu untuk (harus) mati.
Salah seorang teman saya dari masa sekolah baru saja kehilangan Ayahnya kemarin siang.
Terlalu mendadak. Tidak ada tanda. Semua terlihat baik.
Beliau dengan kesibukan rapatnya hari itu, masih bercengkrama dengan keluarga sampai malam sehari sebelumnya. Dan mendadak, beliau kembali ke rumah dalam keadaan sudah terbujur kaku keesokan harinya.
Sebagai seorang Imam yang baik untuk keluarga, kali ini Beliau yang harus didoakan oleh seluruh keluarga dan teman.
Saya yang datang ke rumah duka sore harinya, teman saya terlihat kuat, tidak ada air mata yang keluar, berbeda dengan ketika siang saya menelponnya. Bahkan mendengar suaranya pun saya tidak kuat siang itu.
Ibunya yang duduk di pinggir pintu, di seberang tempat jenasah disemayamkan. Duduk, termangu menatap sang kekasih hati yang sudah terbujur kaku tak bernapas. Dengan rasa masih tidak percaya, si Ibu masih bercerita, tidak ada tanda apapun dari Om, ujarnya.
Sesaat sebelum pulang, saya masih pamit dengan Tante. Dan tentu teman saya.
Ketika saya ada di depan teman saya, reflek dia memeluk saya, dan menangis.
Borgol perasaan yang saya kunci rapat, seketika itu juga hancur bersamaan dengan pelukan erat teman saya.
Lama kami tidak pernah bertemu. Terakhir kali saya menemuinya sekitar awal tahun ketika hari pernikahan teman saya itu.
Lama kami tidak bercengkrama dan saling bertukar kabar.
Tapi kemarin sore, ketika pelukan erat itu mendarat di tubuh saya, saya pun sadar, seberapa lama pun dua orang teman tidak bertemu, ketika sebuah pelukan erat datang di saat kehilangan, kalian akan tetap merasa dekat dan saling merasakan kesedihannya.
Selamat jalan Om, semoga hidupmu lebih baik di tempat yang baru. Saya hanya bisa menitipkan doa untuk Om.
Labels:
what a life
Subscribe to:
Posts (Atom)

